19 November 2024

,

Aksi Nyata Modul 2,3 Coaching Untuk Supervisi Akademik

 


Aksi Nyata 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik ini saya laksanakan pada tanggal 15 Oktober 2024 dengan rekan sejawat saya Ibu Tuti Suryawati,S.Pd yang mengampu Mata Pelajaran IPS kelas IXA. Dalam kegiatan observasi ini terbagi menjadi 3 tahap yaitu:

Pra Observasi

Pada tahapan Pra observasi ini saya selaku Supervisor dan rekan saya guru yang akan diobservasi ini mealkaukan percakapan Pra Observasi untuk mengetahui tujuan pembelajaran, area pengembangan dan strategi yang akan dilaksanakan oleh guru. Kegiatan ini berlangsung sekitar 10-15 menit dan dilanjutkan pada tahapan berikutnya yaitu

Observasi Pembelajaran di Kelas

Pada tahap ini saya melakukan observasi di dalam kelas IXA dan mengamati area pengembangan yang dilakukan oleh rekan guru pada aspek dan strategi pengembangan

Pasca Observasi

Pada tahap akhir ini saya melakukan percakapan Pasca Observasi memberikan refleksi umban balik konstruktif dan rencana tindak lanjut.




 

Continue reading Aksi Nyata Modul 2,3 Coaching Untuk Supervisi Akademik

15 November 2024

,

Elaborasi Modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid.

 


Hari ini kami CGP Angkatan 11 Kab.Jembrana melaksanakan elaborasi modul terakhir yaitu 3.3 dengan instruktur Bpk. I GUSTI NGURAH BAGUS ARYOTEJO mengenai Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid.

Berikut ini Kesimpulan yang dapat saya rangkum pada kegiatan elaborasi modul 33

Bayangkan kelas Anda seperti sebuah kapal besar. Selama ini, mungkin kita sebagai guru yang selalu menjadi kaptennya, menentukan arah dan tujuan pelayaran. Tapi, bagaimana jika kita mengajak para siswa untuk ikut memegang kemudi?

Dengan konsep student agency, kita mengajak siswa untuk menjadi kapten kapal belajar mereka sendiri. Ini bukan berarti kita lepas tangan, tapi lebih kepada memberikan mereka kompas dan peta, lalu membimbing mereka dalam menentukan arah yang ingin dituju.

Mengapa ini penting?

  • Motivasi meningkat: Ketika siswa merasa memiliki kendali atas pembelajarannya, mereka akan lebih termotivasi untuk belajar.
  • Keterampilan abad 21: Konsep ini membantu siswa mengembangkan keterampilan seperti berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kreativitas.
  • Pembelajaran yang bermakna: Siswa akan lebih menghargai apa yang mereka pelajari jika mereka sendiri yang memilih topik dan menentukan cara belajar.
  • Persiapan untuk masa depan: Dengan memberikan siswa kesempatan untuk memimpin pembelajarannya, kita sedang mempersiapkan mereka untuk menghadapi dunia yang semakin kompleks dan menuntut.

Bagaimana caranya?

  • Berikan pilihan: Izinkan siswa memilih topik yang ingin mereka pelajari, metode pembelajaran yang mereka sukai, atau proyek yang ingin mereka kerjakan.
  • Fostering collaboration: Dorong siswa untuk bekerja sama dalam kelompok dan berbagi ide.
  • Memberikan umpan balik yang konstruktif: Bantu siswa untuk merefleksikan pembelajaran mereka dan menetapkan tujuan yang lebih tinggi.
  • Jadilah fasilitator: Alih-alih menjadi pusat perhatian, guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing dan mendukung siswa.

Contoh dalam Praktik:

  • Proyek berbasis masalah: Siswa memilih masalah yang ingin mereka pecahkan, lalu merancang dan melaksanakan proyek untuk menemukan solusinya.
  • Pembelajaran berbasis minat: Siswa dapat memilih topik yang mereka minati untuk dipelajari secara mendalam.
  • Rotasi pusat pembelajaran: Siswa dapat berpindah-pindah ke berbagai pusat pembelajaran yang berbeda, sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka.

Dengan memberdayakan siswa, kita tidak hanya menciptakan lingkungan belajar yang lebih menyenangkan, tetapi juga mempersiapkan generasi muda yang siap menghadapi tantangan masa depan.

 

Continue reading Elaborasi Modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid.

14 November 2024

,

Eksplorasi Konsep - Modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid



Refleksi

Setelah membaca beberapa situasi yang dideskripsikan di atas, lakukan refleksi dengan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Jenis Kegiatan atau program apakah yang dideskripsikan tersebut (Apakah intrakurikuler, ko-kurikuler, atau ekstrakurikuler)?
  2. Dalam setiap situasi, identifikasilah dibagian mana dan bagaimana guru mencoba mempertimbangkan ‘suara’; ‘pilihan’; dan ‘kepemilikan’ murid untuk mendorong tumbuhnya kepemimpinan murid.  Jelaskan jawaban Ibu/Bapak.
  3. Dalam setiap situasi yang digambarkan di atas, apa dimensi Profil Pelajar Pancasila yang dikembangkan? Jelaskan jawaban Anda!

Situasi 1: Program Kebun Cahaya di TK

  • Jenis Kegiatan: Intrakurikuler (diintegrasikan dalam pembelajaran sehari-hari)
  • Suara, Pilihan, Kepemilikan Murid: Guru memberikan ruang bagi murid untuk menyampaikan ide, memilih jenis tanaman, dan bertanggung jawab dalam merawat kebun. Murid merasa memiliki kebun tersebut karena ide awalnya berasal dari mereka.
  • Dimensi Profil Pelajar Pancasila:
    • Mandiri: Murid belajar bertanggung jawab atas tugas dan keputusan mereka.
    • Gotong Royong: Murid bekerja sama dalam merawat kebun dan saling membantu.
    • Berkebhinekaan Global: Murid belajar menghargai keberagaman ide dan bekerja sama dengan teman yang berbeda.

Situasi 2: Merancang Layout Kelas di SD

  • Jenis Kegiatan: Intrakurikuler
  • Suara, Pilihan, Kepemilikan Murid: Murid diberikan kebebasan untuk merancang layout kelas sesuai dengan keinginan mereka. Meskipun awalnya guru merasa kurang setuju, namun guru tetap menghormati pilihan murid dan memberikan kesempatan untuk mengevaluasi sendiri pilihan mereka.
  • Dimensi Profil Pelajar Pancasila:
    • Kreatif: Murid bebas berkreasi dalam merancang layout kelas.
    • Bernalar Kritis: Murid belajar mengevaluasi hasil kerja mereka dan memberikan solusi atas masalah yang muncul.
    • Gotong Royong: Murid bekerja sama dalam memutuskan layout kelas yang terbaik.

Situasi 3: Studi Wisata di SMP

  • Jenis Kegiatan: Ekstrakurikuler
  • Suara, Pilihan, Kepemilikan Murid: Murid dilibatkan dalam seluruh proses perencanaan studi wisata, mulai dari pemilihan destinasi hingga perencanaan kegiatan. Murid merasa memiliki kegiatan ini karena ide-ide mereka didengarkan dan dihargai.
  • Dimensi Profil Pelajar Pancasila:
    • Bergotong Royong: Murid bekerja sama dalam merencanakan dan melaksanakan studi wisata.
    • Mandiri: Murid belajar bertanggung jawab atas keputusan yang mereka ambil.
    • Bernalar Kritis: Murid belajar menganalisis berbagai pilihan dan mengambil keputusan yang rasional.

Situasi 4: Ekstrakurikuler Daring di SMA

  • Jenis Kegiatan: Ekstrakurikuler
  • Suara, Pilihan, Kepemilikan Murid: Murid diberikan kesempatan untuk mengusulkan kegiatan ekstrakurikuler yang ingin mereka lakukan. Murid juga diberikan kesempatan untuk menjadi pengajar bagi teman-temannya.
  • Dimensi Profil Pelajar Pancasila:
    • Kreatif: Murid mampu menciptakan ide-ide baru untuk kegiatan ekstrakurikuler.
    • Gotong Royong: Murid bekerja sama dalam mengorganisir kegiatan ekstrakurikuler.
    • Mandiri: Murid berani mengambil inisiatif dan bertanggung jawab atas tugasnya.

Situasi 5: Proyek Pakan Ternak Organik di SMK

  • Jenis Kegiatan: Intrakurikuler (Proyek pembelajaran)
  • Suara, Pilihan, Kepemilikan Murid: Murid diberikan kebebasan untuk memilih topik proyek, melakukan penelitian, dan menemukan solusi atas permasalahan yang ada.
  • Dimensi Profil Pelajar Pancasila:
    • Bernalar Kritis: Murid menggunakan pemikiran kritis untuk menganalisis masalah dan mencari solusi.
    • Kreatif: Murid mampu menciptakan produk baru yang inovatif.
    • Gotong Royong: Murid bekerja sama dalam menyelesaikan proyek.

Situasi 6: Program ITS di SMK

  • Jenis Kegiatan: Ekstrakurikuler
  • Suara, Pilihan, Kepemilikan Murid: Murid diberikan kesempatan untuk mengusulkan program ekstrakurikuler, merencanakan kegiatan, dan mengelola program tersebut.
  • Dimensi Profil Pelajar Pancasila:
    • Mandiri: Murid mampu mengelola program secara mandiri.
    • Gotong Royong: Murid bekerja sama dalam menjalankan program.
    • Kreatif: Murid mampu mengembangkan ide-ide baru untuk program tersebut.

Kesimpulan Umum

Dalam semua situasi di atas, guru berperan penting dalam memfasilitasi tumbuhnya kepemimpinan murid dengan cara:

  • Memberikan ruang untuk berpendapat: Guru memberikan kesempatan kepada murid untuk menyampaikan ide dan pendapat mereka.
  • Memberikan pilihan: Guru memberikan beberapa pilihan kepada murid sehingga murid merasa memiliki bagian dalam pengambilan keputusan.
  • Memberikan tanggung jawab: Guru memberikan tanggung jawab kepada murid untuk melaksanakan tugas yang telah mereka pilih.
  • Memberikan dukungan: Guru memberikan dukungan dan bimbingan kepada murid dalam proses belajar dan berkembang.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa melalui pendekatan pembelajaran yang melibatkan murid secara aktif, sekolah dapat mengembangkan profil pelajar Pancasila yang holistik dan komprehensif.

Pentingnya Melibatkan Murid

Melibatkan murid secara aktif dalam proses pembelajaran memiliki banyak manfaat, antara lain:

  • Meningkatkan motivasi belajar: Murid akan lebih termotivasi untuk belajar jika mereka merasa terlibat dan memiliki bagian dalam proses pembelajaran.
  • Meningkatkan kemampuan berpikir kritis: Murid akan terlatih untuk berpikir kritis dalam menganalisis masalah dan mencari solusi.
  • Meningkatkan kemampuan berkomunikasi: Murid akan terlatih untuk berkomunikasi secara efektif dengan teman sebaya dan guru.
  • Meningkatkan rasa percaya diri: Murid akan merasa lebih percaya diri jika mereka berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan.

Implikasi bagi Praktik Pendidikan

Guru perlu terus berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi tumbuh kembangnya kepemimpinan murid. Hal ini dapat dilakukan dengan cara:

  • Merancang pembelajaran yang berpusat pada murid: Guru perlu merancang pembelajaran yang menarik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari murid.
  • Memberikan kesempatan kepada murid untuk bereksplorasi: Guru perlu memberikan ruang bagi murid untuk mencoba hal-hal baru dan mengembangkan minat dan bakat mereka.
  • Menciptakan suasana kelas yang kolaboratif: Guru perlu menciptakan suasana kelas yang terbuka dan saling menghormati sehingga murid merasa nyaman untuk berbagi ide dan bekerja sama dengan teman sebaya.
  • Menjadi fasilitator pembelajaran: Guru perlu beralih dari peran sebagai penyampai informasi menjadi fasilitator pembelajaran yang membantu murid dalam membangun pengetahuan dan keterampilan mereka.

Dengan demikian, sekolah dapat mencetak lulusan yang tidak hanya memiliki pengetahuan yang luas, tetapi juga memiliki keterampilan hidup yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan di masa depan.

 

Continue reading Eksplorasi Konsep - Modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid

13 November 2024

,

Mulai Dari Diri Modul 3.3. Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid

 


Saat Ibu/Bapak bersekolah dulu, Ibu/Bapak tentu pernah mengikuti berbagai program/kegiatan di sekolah. Program/kegiatan itu dapat berupa program/kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler.

Program/kegiatan intrakurikuler merupakan merupakan program/kegiatan utama sekolah yang dilakukan dengan menggunakan alokasi waktu yang telah ditentukan dalam struktur program sekolah. Program/Kegiatan ini dilakukan oleh guru dan murid dalam jam pelajaran setiap hari dan ditujukan untuk mencapai tujuan minimal dari setiap mata pelajaran dalam kurikulum. Sementara itu, program/kegiatan kokurikuler merupakan program/kegiatan yang dilaksanakan sebagai penguatan atau pendalaman kegiatan intrakurikuler. 

Program/kegiatan ini meliputi kegiatan pengayaan mata pelajaran, kegiatan ilmiah, pembimbingan seni dan budaya, dan/atau bentuk kegiatan lain yang dapat menguatkan karakter murid. Sedangkan program/kegiatan ekstrakurikuler adalah program/kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam belajar kegiatan intrakurikuler dan kegiatan kokurikuler, di bawah bimbingan dan pengawasan sekolah, dan diselenggarakan dengan tujuan untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerjasama, dan kemandirian murid.

 

Nah, sekarang kami ingin Ibu/Bapak mengingat kembali dan melakukan refleksi terhadap pengalaman Ibu/Bapak yang paling berkesan saat terlibat dalam berbagai program/kegiatan sekolah semasa menjadi murid. Refleksi dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan.

 

Soal 1

Apa kegiatan/programnya?

Your answer:

Program Pelatihan Belajar Mengetik Dengan Mesin Ketik Manual

 

 

Soal 2

Siapa yang memprakarsai atau menggagas program tersebut

Your answer:

Ketua Jurusan Administrasi Perkantoran

 

Soal 3

Berperan sebagai apa Ibu/Bapak saat itu?

Your answer:

Siswa/ peserta 

 

Soal 4

Bagaimana perasaan Ibu/Bapak saat itu?

Your answer:

Senang karena bisa belajar mengetik sistem buta 10 jari

 

Soal 5

Mengapa pengalaman tersebut berkesan untuk Ibu/Bapak?

Your answer:

Pengalaman ini sangat berkesan karena pada tahun itu komputer sangat terbatas sehingga dengan belajar mesin ketik manual saya bisa mengetik tugas paper di kursus bahasa Inggris saya.

 

Soal 6

Apa pembelajaran yang Ibu/Bapak ambil dari kegiatan/ program tersebut?

Your answer:

Kedisplinan dan percaya diri, dalam mengetik sistem buta dan 10 jari kuncinya harus yakin. dan percaya diri jika jari kita sudah menekan tombol yang benar walaupun tidak melihat.

 

Soal 7

Bagaimana pengalaman tersebut berdampak pada Ibu/Bapak sekarang? Apakah berdampak positif atau negatif?

Your answer:

Dampak dari pengalaman tersebut saya mampu mengetik dengan cepat dengan sistem 10 jari dan ini sangat membantu saya dalam menyelesaikan tugas sebagai guru dan tugas sebagai peserta PGP

Soal 8

Setelah membaca judul modul dan melakukan refleksi di awal pembelajaran, apa yang tergambar di benak Ibu/Bapak? Hal apa yang Ibu/Bapak harapkan dapat dipelajari pada modul ini?

Your answer:

Yang tergambar ketika melakukan refleksi di awal pembelajaran yang tergambar dibenak saya adalah memikirkan program- program apa saja yang berdampak pada siswa.

Hal yang saya harapkan dalam mempelajari modul ini saya menjadi lebih paham dan bisa menjalankan Program yang Berdampak pada Murid 

 

Continue reading Mulai Dari Diri Modul 3.3. Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid

09 November 2024

, ,

Guru Altruis Lawan Krisis Membaca Dan Menulis

 


Buku adalah jendela dunia, kata seorang filsuf. Namun, banyak jendela dunia yang belum terbuka bagi generasi muda kita. Kemampuan membaca, menulis, dan berpikir kritis adalah kunci sukses di era digital. Namun, hasil PISA 2022 menunjukkan bahwa literasi siswa Indonesia masih perlu ditingkatkan. Penurunan skor 12 poin dari 371 di 2018 menjadi 359 di 2022 dimana target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (kemendikbudristek) 2020-2024 sebesar 396, hal ini menjadi alarm bagi kita semua. Jika literasi rendah, maka potensi generasi muda kita juga akan terhambat.

Jika ditelusuri secara mendalam, akar permasalahannya adalah hal mendasar kemampuan membaca siswa yang sangat rendah dan itu terjadi di sekolah-sekolah dan termasuk di sekolah tempat saya bertugas. Bertolak ukur dari hasil Rapor pendidikan sekolah kami SMP Negeri 2 Mendoyo pada tahun 2024 terjadi penurunan sebesar 11,11 % dari tahun 2023 pada kemampuan literasi. Setelah ditelusuri permasalahan yang terjadi 2 dari 45 siswa yang mengikuti Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) memiliki kemampuan membaca yang sangat rendah. Setelah melakukan pendataan melalui guru Bimbingan Konseling  (BK) pada tahun pelajaran  2022/2023 ditemukan 5 siswa di sekolah kami belum mampu membaca lancar. 

 

Kemampuan Literasi Siswa di SMPN 2 Mendoyo Rapor Pendidikan Tahun 2024


Kemudian pada tahun Pelajaran 2023/2024 kembali sekolah mengidentifikasi siswa yang terkendala dalam membaca. Pada penelusuran tahun ini sekolah melalui kerjasama dengan guru BK menemukan terdapat 6 orang siswa yang belum lancar membaca. Bahkan dari 6 orang siswa ini, terdapat 2 orang siswa yang sama sekali tidak mengenal huruf. Sistem zonasi tanpa tes dalam penerimaan peserta didik baru mewajibkan sekolah menerima seluruh siswa yang mendaftar dan telah memenuhi persyaratan administrasinya. Hal ini menyebabkan sekolah memperoleh siswa-siswi yang beraneka ragam baik dari minat, bakat, dan tingkat pemahamannya.

Generasi muda adalah aset bangsa. Dengan membekali mereka kemampuan membaca dan menulis yang baik, kita telah memberikan mereka senjata paling ampuh untuk menghadapi tantangan masa depan. Mari jadikan literasi sebagai warisan berharga bagi generasi mendatang.


Adanya siswa yang kesulitan membaca hingga tingkat SMP adalah masalah yang sangat fenomenal. Ini adalah persoalan yang harus diselesaikan karena akan menghambat proses pembelajaran. Mereka bagaikan kapal tanpa kompas, terombang-ambing di lautan informasi yang luas tanpa peta. Adapun hasil observasi dan wawancara dengan siswa yang belum bisa membaca penyebabnya adalah siswa yang tidak fokus dalam belajar.

Mengapa ini bisa terjadi?

  • Di era gadget yang serba instan, buku seringkali terlupakan. Jarang sekali kita melihat anak-anak asyik membaca buku cerita sebelum tidur atau menghabiskan waktu di perpustakaan.
  • Metode pembelajaran yang monoton dan kurang menarik minat siswa dapat membuat siswa enggan membaca.
  • Lingkungan sekitar yang kurang memadai, seperti minimnya akses terhadap buku bacaan yang berkualitas, juga menjadi penghambat.
  • Tuntutan keluarga karena harus membantu orangtua.
  • Orangtua yang sibuk  sehingga tidak bisa mendampingi anak belajar dan tidak memfasilitasi les membaca anak padahal manfaatnya tidak hanya bisa membaca dan menulis tapi dapat mengembangkan potensi anak sejak dini.

Dampaknya?

Masalah ini bukan sekadar soal nilai ujian. Ketidakmampuan membaca berdampak pada berbagai aspek kehidupan siswa. Mereka akan kesulitan memahami pelajaran di sekolah, kesulitan berkomunikasi, dan memiliki peluang yang lebih kecil untuk meraih kesuksesan di masa depan. Hasil diskusi dari group WA dimana saya bergabung didalamnya yang merupakan guru yang berasal dari berbagai Provinsi permasalahan sama terjadi masih ada siswa yang memasuki jenjang SMP belum mampu membaca. 

Tentu saja banyak faktor yang menyebabkan siswa belum mampu membaca hingga di jenjang SMP.  Agar tidak saling menyalahkan maka perlu kerjasama orangtua, siswa, guru, komite dan stakeholder. Ada banyak alternatif dalam menyelesaikan masalah dasar membaca dan menulis siswa. Dalam menyelesaikan persoalan tersebut sekolah kami berupaya untuk menuntaskan permasalahan membaca siswa dengan beberapa tahapan:

Langkah pertama mencari tahu siapa saja siswa yang kesulitan membaca. Setelah itu, Kepala Sekolah mengajak guru Bimbingan Konseling untuk menjadi sahabat bagi para siswa ini, dengan pendekatan yang personal dan menyenangkan, para siswa akan merasa nyaman dan termotivasi untuk terus belajar. Dalam hal ini sekolah memberikan ruang untuk belajar membaca siswa dan memberi alternatif lain untuk mengikuti les membaca dan menulis.

Langkah kedua, mengunjungi rumah siswa yang belum mampu membaca. Tujuannya? Untuk mengajak orang tua ikut terlibat dalam proses pembelajaran anak-anak mereka untuk menciptakan sinergi antara sekolah dan keluarga. Bersama-sama, mencari solusi terbaik untuk mengatasi kesulitan belajar yang dihadapi anak. Sekolah dapat memfasilitasi Les membaca  untuk membantu siswa yang mengalami masalah membaca dan menulis untuk mengenal huruf, menyambung kata atau membaca kurang lancar.

Langkah ketiga, mengadakan pertemuan dengan orang tua siswa. Dalam pertemuan ini, Kepala Sekolah menjelaskan pentingnya membaca bagi masa depan anak, serta berbagi tips dan trik untuk membimbing anak belajar di rumah dan mengajak orang tua untuk berkomitmen mendukung program ini.

Mengapa orang tua dilibatkan? Karena keluarga adalah lingkungan belajar pertama dan utama bagi anak. Dengan dukungan orang tua, anak-anak akan merasa lebih percaya diri dan termotivasi untuk mencapai keberhasilan.

Latihan Membaca Siswa 

Apa yang diharapkan? Tentu saja kami selaku warga sekolah berharap program ini dapat membuka jendela dunia bagi para siswa. Kami ingin mereka tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, mandiri, dan penuh rasa ingin tahu.

Jika masih ada siswa SMP yang belum mampu membaca lancar bahkan ada yang belum mengenal huruf maka pada jenjang SD jumlahnya akan jauh lebih banyak. Agar masalah ini tidak berlarut-larut ada baiknya orang tua memperhatikan kebutuhan membaca dan menulis anak agar dipersiapkan sejak dini. Orang tua jangan menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah, jika anak mengalami hambatan membaca maka orang tua harus mendampingi anak untuk belajar di rumah jika memiliki kesibukan orang tua bisa memasukkan anaknya di Kursus membaca anak salah satunya kursus Bahasa Indonesia Kumon. Salah satu keunggulan belajar di Kumon menggunakan metode belajar yang menggali potensi setiap siswa dan mengembangkan kemampuan anak secara maksimal. Selain itu sebelum Kursus Membaca di Kumon ini dilaksanakan Tes Penempatan, yang bertujuan untuk menentukan titik pangkal yang tepat untuk anak.


Dari Meja Guru ke Dunia Literasi

Selain program menangani permasalahan siswa yang belum mampu membaca lancar, sekolah juga menyediakan program literasi pagi selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Saya adalah seorang guru yang memiliki hobi menulis di blog maupun sosial media. Dari hobi tersebut saya telah menerbitkan 5 buku solo dan belasan buku antologi. Selain itu saya juga bergabung pada komunitas menulis dan komunitas blogger untuk meningkatkan semangat literasi agar tetap terjaga dan konsisten menulis terutama update postingan di blog. Berangkat dari hobi tersebut saya ingin meningkatkan literasi untuk siswa-siswi saya dan anak-anak dilingkungan sekitar tempat tinggal saya. 

Tindakan nyata dimulai dari satu kata, satu kalimat, dan satu buku

Buku solo karya cikgurita.com

Buku antologi karya cikgurita.com

Bersama Lebih Kreatif, Bersama Lebih Produktif

Sebagai guru Informatika saya berkolaborasi bersama rekan guru Bahasa Indonesia dalam meningkatkan literasi di sekolah. Di sini saya mengajak guru Bahasa Indonesia untuk memberi tugas kepada siswa baik itu dalam bentuk puisi, cerpen, sajak, pantun dan kemudian karya sastra siswa itu dibawa pada saat pembelajaran Informatika. Dalam pembelajaran tersebut saya arahkan siswa untuk membuat blog dan karya-karya mereka di posting kedalam blog. Hasil postingan mereka share pada group WA agar bisa dibaca oleh siswa-siswa lainnya.

Selain itu saya juga mengajak guru dan siswa untuk menulis buku antologi bersama dengan judul Bunga Rampai Inspirasi dalam "Pezona Literasi" Pengembangan Zona Literasi di SMP Negeri 2 Mendoyo. Buku ini merupakan antologi perjalanan kisah hidup guru maupun siswa yang berjuang dan mampu bertahan dalam situasi yang sulit sehingga menginspirasi bagi pembaca. Tujuan dari terbitnya buku ini yaitu dapat menginspirasi pembacanya terkhusus siswa-siswa di sekolah. Benar saja setelah buku terbit, dan siswa membaca di perpustakaan ada siswa yang memberikan komentar “Bu, bukunya bagus, saya jadi tahu tentang perjuangan guru dan saya jadi termotivasi.”

Buku Antologi Guru dan Siswa SMPN 2 Mendoyo

Menyebarkan Semangat Literasi Melalui Donasi Buku Karya Sendiri

Buku karya solo maupun karya antologi yang saya buat saya sumbangkan juga kepada Perpustakaan Sekolah, Perpustakaan Daerah Kab.Jembrana dan Rumah Baca di lingkungan sekitar tempat tinggal. Selain itu, saya juga mengajak rekan-rekan guru yang aktif menulis untuk dapat menyumbangkan karya-karya buku mereka untuk diletakan di  pojok baca kelas , perpustakaan, serta Rumah Baca.

Penyerahan sumbangan buku dari Komunitas Belajar Menulis Nusantara

 
Penyerahan sumbangan buku ke Rumah Baca 

Guru altrius  dalam melawan krisis membaca dan menulis tidak hanya berkorban tenaga, pikiran, waktu akan tetapi juga materi untuk mencetak buku yang disumbangakan kepada perpustakaan maupun pojok baca dengan harapan kemampuan literasi mebaca siswa meningkat. Setelah literasi siswa meningkat harapan berikutnya keterampilan menulis siswa yang perlu diasah  agar dapat meningkat sehingga siswa tidak hanya mampu membaca buku, tetapi juga mampu memahami isi dan berpikir kritis dari bacaan hingga mampu menuangkan ide gagasan mereka dalam bentuk tulisan. Dengan setiap kata yang ditulis dan setiap buku yang dibaca, sesungguhnya kita sedang membangun masa depan yang lebih cerah. 

Mari kita menjadi Pahlawan Literasi dimulai dari rumah sendiri, lingkungan sekitar sekolah, maupun lingkungan sekitar rumah. Dengan kerja sama yang baik, kita bisa mengubah situasi ini. Setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk belajar dan berkembang. Mari kita berikan mereka bekal yang cukup agar mereka bisa meraih cita-cita setinggi langit.

Membaca dan menulis adalah dua sisi mata uang yang sama. Melalui membaca, kita memperluas wawasan dan pengetahuan. Sedangkan melalui menulis, kita membagikan ide dan menginspirasi orang lain. Mari bersama-sama menjadi pahlawan literasi yang menginspirasi generasi muda. 

 

Referensi :
  1. https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/GNlPJEgN-skor-pisa-indonesia-tak-capai-target-rpjmn-2024
  2. https://id.kumonglobal.com/for-parents/our-programmes/
  3. https://id.kumonglobal.com/anak-prasekolah-mereka-luar-biasa-dan-ini-saat-yang-tepat-untuk-mengembangkan-potensinya/
  4. https://id.kumonglobal.com/for-parents/enrolment-procedure/?utm_source=Website+Article&utm_medium=Article&utm_id=Kumon+Blog+Competition
  5. https://id.kumonglobal.com/pentingnya-pemahaman-literasi-pada-anak/?utm_source=Website+Article&utm_medium=Article&utm_id=Kumon+Blog+Competition
  6. https://id.kumonglobal.com/les-kumon-mulai-usia-berapa/?utm_source=Website+Article&utm_medium=Article&utm_id=Kumon+Blog+Competition
  7. https://id.kumonglobal.com/mengembangkan-keterampilan-motorik-halus-bagaimana-kumon-membantu-memperkuat-keterampilan-tulisan-tangan-anak-anda/



Continue reading Guru Altruis Lawan Krisis Membaca Dan Menulis

03 November 2024

,

Demonstrasi Kontekstual Modul 3.2

 


Tujuan Pembelajaran

CGP dapat menganalisis tentang visi dan prakarsa perubahan dari tayangan video praktik baik yang ada. CGP dapat mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan masing-masing tahapan B - A - G - J - A dari tayangan video yang ada. CGP dapat mengidentifikasi peran pemimpin pembelajaran dari tayangan video. CGP dapat menganalisis modal utama apa saja yang dimanfaatkan contoh video praktik baik ini.

Ringkasan Isi Video

Dalam video ini guru mempraktikkan penerapan BAGJA di kelas untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan dengan berkolaborasi bersama siswa dan mengeksplorasi ide siswa

1. Kira-kira apakah visi dari sekolah tempat guru dalam video tersebut mengabdi? 

Terwujudnya sekolah yang menyenangkan, nyaman, dan inspiratif

2.  Apakah prakarsa perubahan yang akan dilakukan oleh guru dalam tayangan video?

Kelas yang nyaman, belajar yang menyenangkan

3.  Apakah Pertanyaan Utama dari kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam tayangan video tersebut?

Bagaimana cara mewujudkan kelas yang nyaman dan belajar yang menyenangkan?

4.  Kegiatan/tindakan apa yang dilakukan oleh guru dalam tayangan video yang menggambarkan tahapan B-A-G-J-A

Buat Pertanyaan

Guru mengajak siswa, untuk menggali pendapat mereka tentang apa yang disukai dengan memberikan kalimat “Penyemangat Belajar” di papan tulis

Ambil Pelajaran

Guru meminta siswa untuk berkunjung ke kelas 2 dan 6 selama istirahat. Selama kunjungan, siswa diminta untuk mengamati dengan seksama hal-hal yang mereka sukai dari kedua kelas tersebut, seperti dekorasi, tata letak ruangan, atau aktivitas pembelajaran yang sedang berlangsung. Setelah kembali ke kelas, siswa didorong untuk berdiskusi dalam kelompok kecil dan berbagi ide-ide mengenai hal-hal yang dapat mereka terapkan di kelas mereka sendiri. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk merangsang kreativitas siswa dan mendorong mereka untuk ikut serta dalam menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan memotivasi.

Gali Mimpi

Guru telah menyiapkan berbagai alat dan bahan untuk setiap kelompok. Sebagai langkah awal, siswa diminta untuk menutup mata dan membayangkan suasana kelas yang ideal menurut mereka. Selanjutnya, siswa akan berkreasi dalam kelompok untuk menggambarkan kelas impian mereka. Hasil karya dari setiap kelompok akan dipresentasikan di depan kelas.

Jabarkan Rencana

Siswa secara aktif berpartisipasi dalam menentukan kebutuhan untuk mewujudkan kelas impian mereka. Guru mencatat semua ide dan harapan siswa di papan tulis, kemudian membagi tugas kepada setiap siswa agar kelas menjadi tempat belajar yang menyenangkan.

Atur Eksekusi

Siswa aktif berpartisipasi dalam membagi tugas di kelompoknya. Mereka juga berdiskusi dengan guru untuk menentukan jadwal pelaksanaan proyek. Selain itu, siswa mempersiapkan semua alat dan bahan yang dibutuhkan sesuai dengan tugas masing-masing. Dengan kerja sama yang baik, seluruh siswa berhasil mewujudkan kelas impian yang menjadi semangat belajar.

5. Apa peran pemimpin yang tergambar dalam tayangan video?

Guru bertindak sebagai fasilitator perubahan, mengarahkan siswa untuk berkontribusi aktif dalam menciptakan lingkungan belajar yang optimal.

5.      Apa saja modal utama yang dimanfaatkan oleh pemimpin pembelajaran dalan tayangan video? lalu bagaimana pemanfataannya?

 

Modal Manusia

 

Manfaat

Guru, Siswa

 

Untuk memetakan sumber daya untuk mewujudkan kelas impian. Murid bersikap kooperatif, kreatif, mandiri dan bertanggung jawab atas tugas yang diberikan.

Modal Sosial

Rekan Sejawat Siswa dari kelas lain

 

Rekan sejawat dapat diajak berkolaborasi untuk merumuskan prakarsa perubahan. Siswa dari kelas lain (kelas 2 & 6) dapat dijadikan objek observasi.

 

Modal Fisik

Ruang Kelas dan fasilitas yang ada di kelas

 

Ruang kelas dapat ditata sesuai dengan kreativitas siswa agar suasana belajar nyaman dan menyenangkan

 

Modal Finansial

Dana BOS Uang Kas

 

Membuat rencana untuk keperluan kelas yang bisa dianggarkan dari dana BOS Uang kas dapat digunakan membeli alat-alat pendukung yang diperlukan kelas

 

Modal Lingkungan

Platik Bekas Bahan ramah lingkungan

 

Dapat dimanfaatkan untuk menghias kelas sehingga kelas menjadi terlihat indah dan nyaman

 

Modal Politik

Kebijakan Kepsek

 

Kebijakan ini memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, efektif, dan aman bagi seluruh warga sekolah.

 

Modal Agama dan Budaya

Sopan santun Gotong royong

 

Menciptakan budaya positif dikelas Menciptakan kerukunan dan kekompakan bagi warga kelas dan sekolah

 

 

 


Continue reading Demonstrasi Kontekstual Modul 3.2