14 Juni 2026

Surat Cinta Ayah dan Bunda, Melunasi Lelah Dengan Syukur



Kemarin, Sabtu, 13 Juni 2026, menjadi sebuah lembaran sejarah yang tidak akan pernah pupus dalam ingatan kami sebagai orang tua. Menyaksikan putri kami, Raihani Aulia Setiawan, berdiri dengan anggun mengenakan pakaian wisuda di Pondok Pesantren Firdaus adalah sebuah anugerah yang nyata. Tiga tahun lalu, perjalanan ini tidak dimulai dengan hamparan karpet merah, melainkan dengan sebuah keraguan yang teramat besar. Rasa bimbang dan cemas berkecamuk di dalam dada, baik di hati kami maupun di dalam jiwanya saat itu.

Kami masih ingat dengan sangat jelas, perihnya hari-hari awal memasuki gerbang asrama. Suasana baru yang asing, disiplin yang ketat, serta keharusan untuk jauh dari pelukan hangat rumah membuatnya tertekan. Kerinduan dan rasa tidak betah sempat merubuhkan pertahanan jiwanya, hingga sebaris kalimat lirih keluar dari bibirnya: "Kalau Hani gak betah, mau pindah..." Kalimat itu jujur sempat menyayat hati kami sebagai orang tua. Ada dorongan kuat untuk membawanya pulang, namun ada bisikan nurani yang lebih dalam bahwa ini adalah proses penempaan yang harus ia lalui demi masa depannya.

Perlahan namun pasti, waktu membuktikan bahwa proses tidak pernah mengkhianati hasil. Dengan untaian doa yang tiada putus, motivasi, serta bimbingan penuh kasih dari para asatidz, ia mulai meyakinkan hatinya untuk menjalani kehidupan di pondok. Langkah kaki yang tadinya berat untuk melangkah di koridor asrama, berubah menjadi derap langkah yang penuh kepastian.

Berbagai kegiatan sekolah dan asrama ia ikuti dengan suka cita mulai dari Bendahara OSIS, Wakil Ketua Asrama, Mc kegiatan-kegiatan sekolah hingga menjadi salah satu Duta Green Ambasador Provinsi Bali tahun 2024 yang diwisuda dan mendapatkan SK langsung dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ibu Prof. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc.



Pondok Pesantren Firdaus menjadi saksi bagaimana ia bertransformasi dari seorang gadis kecil yang rapuh menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, dan sarat akan prestasi. Tidak hanya mampu bertahan, bahkan mengukir prestasi, baik di bidang akademik maupun non-akademik. Setiap penghargaan yang ia raih adalah jawaban indah atas air mata yang pernah tumpah di awal masa mondoknya.

Namun, dari sekian banyak rentetan prestasi yang berhasil ditorehkannya, ada satu pencapaian yang paling menggetarkan sanubari kami dan membuat air mata ini menetes tanpa bisa dibendung. Ia berhasil menyelesaikan prestasi hafalan 5 Juz Al-Qur'an. Merupakan syarat minimal 3 tahun selama dipondok. Hafalan ini terasa sedikit bagi orang lain tapi kami sebagai orang tua sudah sangat bersyukur. Mendengar ayat-ayat suci itu kini terjaga di dalam dada putri kami adalah kebahagiaan tertinggi yang tidak bisa dinilai dengan materi apa pun di dunia ini.

Anakku, bersyukurlah sedalam-dalamnya kepada Allah SWT atas segala kemudahan dan kekuatan yang telah diberikan-Nya. Berbahagialah atas pencapaian yang telah melunasi seluruh lelahmu. Berbanggalah atas keteguhan hatimu yang memilih untuk bertahan di kala menyerah terasa begitu mudah. Tiga tahun di Pondok Pesantren Firdaus telah membentukmu menjadi intan.

Namun ingatlah, wahai putriku, hari esok adalah lembaran baru yang masih putih bersih. Jadikan seluruh prestasi, pujian, dan prosesi wisuda kemarin sebagai kenangan indah yang tersimpan rapi di sudut memori. Jangan terlena oleh riuh tepuk tangan hari ini. Esok hari, kamu harus melupakan euforia ini untuk kembali menapak bumi dan bekerja jauh lebih keras lagi. Bangunlah kembali semangatmu dari titik nol untuk menggapai impian-impian besar yang masih membentang di depan sana.

Tantangan yang menantimu di luar pagar pesantren akan jauh lebih berat dan kompleks daripada hari ini. Dunia nyata menuntut ketahanan yang lebih tinggi. Namun, dengan bekal iman, ilmu, kemandirian, yang telah tertanam di dalam dadamu, kami yakin dan percaya kamu akan mampu melewati setiap badai kehidupan.

Selamat atas kelulusanmu. Teruslah melangkah dan jadilah cahaya di mana pun kamu berada. Doa ayah dan bunda akan selalu mengalir dalam setiap embusan napasmu.

 


Continue reading Surat Cinta Ayah dan Bunda, Melunasi Lelah Dengan Syukur

31 Mei 2026

Puncak Tirta, Kabut Tebal, dan Cerita yang Tertinggal di Balik Lensa



Selalu ada cerita magis yang tertinggal setiap kali kita melangkah keluar dari rutinitas ruang kelas demi mendampingi kreativitas anak didik. Beberapa hari lalu, sebuah perjalanan berharga kami ukir demi memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) SMPN 4 Negara. Kali ini, fokus dan energi kami curahkan sepenuhnya untuk mendukung salah satu siswi berbakat, Ristha, yang berjuang dalam ajang lomba pembuatan vlog yang mengambil tema Objek Wisata di Kabupaten Jembrana yang belum viral.

Sebagai pembimbing vlog, saya merasa sangat beruntung dikelilingi oleh tim "papan atas" yang luar biasa solid. Perjalanan kami menuju lokasi syuting ditemani oleh tim produksi yang andal: Bpk Andri bertindak sebagai cameraman utama dengan kejelian lensanya, didukung penuh oleh Bpk Agung sebagai asisten cameraman yang selalu sigap memastikan semua teknis aman. Tidak hanya itu, rombongan kami semakin hangat dan bersemangat karena didampingi langsung oleh Ibu Tutik selaku Waka Humas dan Ibu Intan yang tiada henti mengoordinasi segala keperluan kami.


Kabut Tebal dan Keajaiban di Puncak Tirta

Destinasi syuting yang kami tuju adalah salah satu permata tersembunyi di bumi Jembrana: Puncak Tirta yang memesona di Desa Manggissari, Kecamatan Pekutatan. Begitu roda kendaraan kami berhenti dan kami melangkah keluar, pemandangan luar biasa langsung menyambut. Alih-alih langit cerah, Puncak Tirta justru sedang diselimuti oleh kabut tebal yang turun dengan begitu anggunnya. Hawa dingin yang menusuk tulang sempat membuat kami kedinginan tanpa mengenakan jaket.

Namun, dinginnya cuaca sama sekali tidak menyurutkan api semangat tim kecil ini. Di balik layar syuting yang penuh tantangan visual karena jarak pandang terbatas, kami menemukan kehangatan tersendiri. Di sela-sela jeda pengambilan gambar, kami duduk bersama menikmati secangkir teh hangat. Asap tipis yang mengepul dari cangkir, berpadu dengan gurauan jenaka dari Bu Intan dan Bu Tutik, justru menambah keseruan luar biasa yang membuat hawa dingin Puncak  berubah menjadi penuh kebersamaan yang akrab.

Siapa sangka, di tengah kabut tebal Puncak Tirta, sebuah kejutan manis menanti. Ristha berkesempatan berkenalan dan mengobrol langsung dengan seorang turis asal Prancis bernama Ana! Sebuah momen spontan yang luar biasa untuk melatih kepercayaan diri dan kemampuan komunikasinya.

 


Lebih dari Sekadar Perlombaan

Hari itu, di bawah bayang-bayang kabut Puncak Tirta, kami belajar banyak hal. Lomba vlog ini bukan lagi sekadar kompetisi untuk mengejar piala. Bagi Ristha, ini adalah ruang kelas raksasa tempat ia belajar berani, melatih kemampuan berkomunikasi dan memupuk mental juara. Bagi kami para guru, ini adalah momen merajut kedekatan, tertawa bersama di balik dinginnya cuaca, dan menyaksikan langsung mekarnya potensi anak didik.

Terima kasih untuk kerja keras luar biasa tim syuting Puncak Tirta! Bpk Andri, Bpk Agung, Ibu Tutik, Ibu Intan, dan tentunya Ristha yang hebat. Apa pun hasil penilaian juri nanti, memori hangat ditemani secangkir teh di tengah kabut Puncak Tirta ini sudah menjadi kemenangan terindah bagi kita semua.

 



Continue reading Puncak Tirta, Kabut Tebal, dan Cerita yang Tertinggal di Balik Lensa

22 Mei 2026

Catatan dari Meja Juri Menulis Cerita FLS3N SD Tingkat Kabupaten Jembrana

 



Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N) selalu menjadi panggung yang dinantikan bagi talenta-talenta muda di seluruh Indonesia. Tahun ini, saya mendapatkan kehormatan luar biasa untuk terlibat langsung dalam perhelatan tersebut, bukan sebagai penonton, melainkan sebagai bagian dari tim penilai untuk cabang lomba Menulis Cerita Tingkat Sekolah Dasar (SD) se-Kabupaten Jembrana.

Terima kasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada seluruh jajaran panitia yang telah memberikan kepercayaan dan kesempatan berharga ini kepada saya. Menjadi saksi lahirnya karya-karya literasi dari anak-anak hebat di Jembrana adalah sebuah pengalaman yang sangat mengesankan.

Kehormatan Bersanding dengan Tokoh Inspiratif

Pengalaman menduduki kursi dewan juri kali ini terasa kian spesial. Sebuah kehormatan besar bagi saya bisa disandingkan dengan sosok luar biasa, Om Nanok. Berbagi ruang diskusi dan menyamakan persepsi nilai dengan beliau memberikan sudut pandang baru yang sangat kaya dalam melihat sebuah karya tulis anak. Diskusi-diskusi hangat di meja juri menjadi ruang belajar yang selaiknya saya syukuri.

Seleksi Kabupaten dengan Atmosfer Nasional

Satu hal yang patut diacungi jempol dari gelaran FLS3N Tingkat Kabupaten Jembrana tahun ini adalah kualitas penyelenggaraannya. Dedikasi dan profesionalisme panitia pelaksana benar-benar di luar ragu. Pengalaman jam terbang para panitia yang sudah sering "berseliweran" menyukseskan event hingga ke tingkat nasional, membawa dampak yang sangat positif.

Mulai dari manajemen acara, ketegasan regulasi, hingga objektivitas jalannya lomba, semuanya dikemas dengan sangat rapi. Tidak berlebihan rasanya jika saya katakan bahwa seleksi Tingkat Kabupaten Jembrana kali ini memiliki atmosfer dan "rasa" yang setara dengan kompetisi Tingkat Nasional. Standar tinggi yang diterapkan ini tentu memaksa para peserta untuk menampilkan kemampuan terbaik mereka.



Harapan untuk Masa Depan Literasi Bali

Membaca lembar demi lembar cerita yang ditulis oleh para peserta memberikan optimisme baru bagi masa depan literasi kita. Imajinasi yang polos, jujur, namun sarat akan pesan moral khas anak-anak berhasil dituangkan dengan begitu apik oleh para peserta.

Namun, kompetisi tetaplah kompetisi. Dari sekian banyak karya hebat, harus dipilih yang terbaik untuk melangkah ke babak berikutnya. Kepada para peserta terpilih yang akan menjadi delegasi Bumi Makepung, selamat berjuang!

Semoga langkah kalian dimudahkan untuk mewakili Provinsi Bali di panggung tertinggi. Harapan besar kita bersama, karya dari Jembrana tidak hanya sekadar bertandang, tetapi mampu menembus jajaran terbaik dan keluar sebagai juara di Tingkat Nasional.

Mari terus dukung anak-anak kita untuk berani bermimpi dan menuliskan cerita mereka kepada dunia!

 

Continue reading Catatan dari Meja Juri Menulis Cerita FLS3N SD Tingkat Kabupaten Jembrana

19 Mei 2026

Menembus Kancah Nasional Lewat Tulisan: Berbagi Inspirasi di KBMN PGRI Gelombang 34

 



Ruang digital WhatsApp Group kembali hangat malam ini. Pukul 19.00 hingga 21.00 WIB menjadi momen yang penuh energi positif saat saya kembali diberi amanah dan kesempatan berharga untuk menjadi narasumber dalam Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 34.

Mengusung tema yang membakar semangat, "Berkarya dan Berprestasi di Kancah Nasional Lewat Menulis", diskusi malam ini bukan sekadar ajang berbagi teori, melainkan ruang refleksi betapa sebuah tulisan mampu membawa seorang pendidik melangkah jauh melampaui batas ruang kelasnya.

 

Menulis Bukan Sekadar Hobi, Tapi Jembatan Prestasi

Dalam pemaparan materi, saya menekankan bahwa menulis bagi seorang guru dan pegiat literasi bukan lagi sekadar pengisi waktu luang. Menulis adalah senjata terbaik untuk menyuarakan ide, mendokumentasikan inovasi pembelajaran, dan mengukir prestasi di tingkat nasional.

Ada tiga poin penting yang malam ini kami bedah bersama para peserta yang luar biasa antusias:

  • Menemukan Unsur Kebaruan (Novelty): Bagaimana mengubah pengalaman mengajar sehari-hari atau pemikiran sederhana menjadi sebuah karya tulis yang memikat juri lomba nasional atau redaksi penerbit.
  • Konsistensi dan Mentalitas Pembelajar: Prestasi nasional tidak lahir semalam. Ia adalah buah dari tumpukan draf yang terus diperbaiki dan keberanian untuk menerima penolakan.
  • Membangun Personal Branding: Lewat tulisan yang tersebar di buku antologi, jurnal, atau media massa, seorang guru sedang membangun rekam jejak digital yang positif dan diakui secara nasional.

 

Antusiasme yang Menyala di WhatsApp Group

Meskipun kelas berlangsung secara daring melalui WhatsApp Group, sekat digital sama sekali tidak mengurangi kehangatan jalannya acara. Sejak pukul 19.00 WIB, notifikasi pertanyaan dan tanggapan dari para peserta mengalir deras.

"Bagaimana menjaga konsistensi menulis di tengah padatnya tugas mengajar?" "Bagaimana cara menembus kompetisi menulis tingkat nasional tanpa rasa minder?"

Pertanyaan-pertanyaan tajam seperti ini menunjukkan betapa besarnya potensi dan gairah literasi yang dimiliki oleh para guru di seluruh penjuru nusantara. Selama dua jam penuh, kami saling melempar ide, memberikan motivasi, dan meruntuhkan mental blog (mental block) yang selama ini sering menghantui para penulis pemula.

 

Terima Kasih, KBMN PGRI!

Kembali berdiri—secara virtual—di panggung KBMN PGRI selalu memberikan kepuasan batin tersendiri bagi saya. Program ini terus konsisten menjadi inkubator lahirnya penulis-penulis hebat dari kalangan pendidik.

Terima kasih kepada tim panitia KBMN PGRI Gelombang 34 yang telah memfasilitasi kegiatan ini dengan sangat baik, serta seluruh peserta yang telah meluangkan waktu malamnya untuk belajar bersama.

Mari kita terus menulis, karena dengan menulis kita tidak hanya sedang berkarya untuk hari ini, tetapi sedang menenun sejarah prestasi kita sendiri di kancah nasional. Sampai jumpa di ruang-ruang literasi berikutnya!

Salam Literasi!

Hasil Resume Peserta

  1. https://sadiyah83.blogspot.com/2026/05/berkarya-berprestasi-di-kancah-nasional.html 
  2. https://nufusana81.blogspot.com/2026/05/menulis-untuk-bertumbuh-dan-berprestasi.html 
  3. https://aanmarian.blogspot.com/2026/05/menulis-jalan-menuju-prestasi-dari-guru.html 
  4. https://emmiutan.blogspot.com/2026/05/lewat-menulis-go-internasional.html
  5. https://umiya110572.blogspot.com/2026/05/berkarya-dan-berprestasi-di-kancah.html
  6. https://hening124.blogspot.com/2026/05/berkarya-dan-berprestasi-di-kancah.html

Continue reading Menembus Kancah Nasional Lewat Tulisan: Berbagi Inspirasi di KBMN PGRI Gelombang 34

17 Mei 2026

Menjadi Ketua Milad Aisyiyah ke 109

 



Diberi amanah menjadi Ketua dalam perayaan Milad ‘Aisyiyah ke-109 PDA Jembrana dengan anjuran efisiensi anggaran dari pemerintah pusat dengan tidak mengurangi kekhidmatan, makna, apalagi semangat dalam menebarkan kebaikan awalnya ragu.

Akan tetapi keraguan itu sirna dengan dukungan penuh dari bunda-bunda ‘Aisyiyah yang selalu solid meluangkan waktu, tenaga, pikiran maupun materi menjadikan perayaan Milad yang sederhana ini terkesan ‘Mewah’

Ada 3 agenda utama dalam Perayaan Milad ‘Aisyiyah di PDA Jembrana  yang menitikberatkan pada kegembiraan dan kemandirian ekonomi:

1.     Lomba Senam Aisyiyah Bahagia: Diikuti oleh delegasi terbaik dari PCA Negara (1 grup), PCA BB Agung (1 grup), dan PCA Melaya (2 grup). Mari kita jadikan ini sebagai ajang syiar bahwa perempuan Aisyiyah itu sehat, kuat, dan bahagia.

2.     Lomba Kue Tradisional: Di mana masing-masing PCA telah mengirimkan jajanan tradisional terbaiknya untuk dinilai. Alhamdulillah kegiatan ini diikuti oleh 4 PCA yaitu PCA Negara, PCA Jembrana, PCA BB Agung dan PCA Melaya. Lomba Ini adalah bentuk pelestarian budaya sekaligus apresiasi terhadap kreativitas ibu-ibu di rumah.

3.     Pelatihan Pengolahan Ikan: Sebagai puncak rangkaian yang insyaAllah akan dilaksanakan pada 3 Juni 2026 bertempat di Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana. Kegiatan ini bertujuan untuk membekali warga Aisyiyah dengan keterampilan ekonomi produktif.



Saya selaku ketua panitia mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh panitia yang telah bekerja keras, baik tenaga, pikiran, mapun donasi serta kepada PDM Jembrana atas  dukungannya baik berupa donasi maupun bimbingan. Mohon maaf apabila dalam pelaksanaan acara ini terdapat kekurangan.

Mari kita terus bergandeng tangan, memperkokoh dakwah untuk mewujudkan perdamaian di tanah Jembrana yang kita cintai ini.

 

 

Continue reading Menjadi Ketua Milad Aisyiyah ke 109

14 Mei 2026

Antara Nekat dan Tekad: Kisah Terpilih Menjadi Finalis Penghargaan Insan Berdampak 2026

 


Pernahkah Anda merasa "dikejar" oleh sebuah peluang? Itulah yang saya rasakan tepat tiga hari sebelum penutupan pendaftaran event Penghargaan Insan Berdampak 2026 yang diselenggarakan oleh GuruInovatif.id. Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, pamflet digital itu seolah menatap balik ke arah saya, menantang untuk berani melangkah keluar dari zona nyaman.

Empat Kursi untuk Seluruh Indonesia

Kompetisi ini bukan main-main. Hanya ada empat kategori yang diperebutkan, masing-masing hanya mencari satu pemenang terbaik di tingkat nasional:

  1. Inspirator Pendidikan Formal
  2. Inspirator Pendidikan Non-Formal
  3. Inovator Pendidikan Formal
  4. Inovator Pendidikan Non-Formal

Bayangkan, pesertanya mencakup pendidik dari seluruh jenjang—mulai dari Guru PAUD, TK, SD, hingga dosen di Perguruan Tinggi di seluruh pelosok Indonesia.

Melawan Kata "Berat"

"Berat." Itulah kata pertama yang terlintas di benak saya. Bagaimana mungkin saya bersaing dengan ribuan pendidik hebat se-Nusantara dalam waktu sesingkat ini? Terlebih, setiap artikel yang dirilis di laman GuruInovatif.id selalu sarat akan ilmu dan sangat inspiratif. Standarnya sangat tinggi.

Namun, perlahan ketakutan itu saya ubah menjadi barisan kalimat. Saya mulai menulis untuk kategori Inspirator Pendidikan Formal. Bukan sekadar untuk menang, tapi untuk mencoba sejauh mana dampak yang telah saya berikan selama ini dapat bermakna bagi orang lain. Tidak ada salahnya mencoba, bukan?

Hadiah di Balik Ketulusan

Siapa sangka, dari rasa ragu di H-3, muncul sebuah kejutan yang tak ternilai. Alhamdulilah, saya sangat bersyukur. Meski belum keluar sebagai pemenang utama di puncak penghargaan, terpilih menjadi salah satu finalis (3 besar nasional) adalah sebuah pencapaian yang sama sekali tidak mudah.

Menjadi finalis berarti ide dan dedikasi saya diakui di panggung nasional. Ini adalah bukti bahwa setiap upaya tulus dalam dunia pendidikan akan menemukan jalannya untuk dihargai, sekecil apa pun celah waktu yang kita miliki.



Pelajaran dari H-3

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa inspirasi tidak menunggu kita siap. Dia datang pada mereka yang berani mengetikkan huruf pertama meski dalam tekanan waktu. Terima kasih GuruInovatif.id atas wadahnya, dan selamat Hari Pendidikan Nasional untuk seluruh insan pendidik yang terus berjuang memberi dampak!

 

#InsanBerdampak2026#GuruInovatif#HariPendidikanNasional #InspiratorPendidikan #BanggaJadiGuru


Continue reading Antara Nekat dan Tekad: Kisah Terpilih Menjadi Finalis Penghargaan Insan Berdampak 2026

28 April 2026

,

Etika Digital



Pada pertemuan kali ini kamu akan belajar cara beretika yang baik di media sosial. Kita akan bahas soal privasi, cara menghargai orang lain, serta cara menghindari cyberbullying dan hoaks. Bagian paling menariknya adalah bagaimana kita bisa tetap punya reputasi bagus dan bertanggung jawab secara digital. Harapannya, setelah belajar ini kamu bisa lebih bijak menggunakan media sosial untuk hal-hal yang positif.

Tujuan Pembelajara pada pertemuan ini

  1. Memahami pentingnya menjaga rekam jejak digital
  2. Menerapkan toleransi dan empati di dunia digital
  3. Membuat kata sandi yang aman
  4. Melindungi data pribadi dan identitas digital

Pertanyaan Pemantik

Bayangkan 10 tahun dari sekarang, kamu sedang melamar pekerjaan impianmu. HRD perusahaan tersebut menemukan komentar kasar atau foto memalukan yang kamu unggah hari ini. Apakah menurutmu adil jika masa depanmu ditentukan oleh apa yang kamu posting saat ini?



    Materi                     Gim Etika Digital       RPP-PM-Etika Digital     Asesmen

Continue reading Etika Digital